Edward Dorrie : Awalnya Kebetulan, Kini Ketagihan

Tujuh tahun lalu adalah masa-masa galau bagi Edward Dorrie. Jabatan mentereng sebagai general manager di salah satu bank terkenal tak membuatnya merasa nyaman. Ia merasa jenuh setelah 13 tahun bergelut di industri keuangan. Pria yang akrab dipanggil Edo ini ingin mencari tantangan baru,  bukan lagi sebagai karyawan tetapi ia ingin mempunyai bisnis sendiri.

Malang! Ternyata tidak mudah menentukan bisnis mana yang ingin ia geluti.  Walau ada banyak bidang industri yang sudah ia ketahui, namun sepertinya tidak ada peluang yang bisa dikerjakan di sana.  Maklum, selama ini yang ia tahu hanyalah industri perbankan.

Beruntung, suatu hari, ketika sedang membolak-balik  halaman surat kabar, matanya tertumbuk pada sebuah iklan penyelenggaraan Pameran Digital Printing & Packaging di  Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta. Ia pun memutuskan untuk datang ke event tersebut. “Siapa tahu mendapatkan ide bisnis di sana,” ujar Edo mengenang masa beberapa tahun lalu.

Menyaksikan pameran industri kreatif ini, hati Edo bersorak. Sepertinya ia telah mendapatkan apa  yang selama ini dicarinya ; peluang bisnis. “Saya melihat  printing merupakan bisnis yang sangat unik dan menantang sekaligus peluangnnya sangat besar,” ujar Edo dengan mata berbinar.

Tanpa  berpikir lama, Edo langsung memutuskan untuk membeli sebuah mesin plotter made in China seharga Rp 9 juta di ajang pameran tersebut. Tak lama setelah itu, bapak dari dua orang anak inipun langsung action membuka “lapak” usaha barunya. Menumpang di tempat usaha orang tuanya, toko alat tulis dan layanan foto copy,  Edo menamai bisnis barunya yang terletak di bilangan Cililitan Jakarta Timur  tersebut dengan  “Bina Maju Advertising”. Visinya, agar menjadi perusahaan printing dan advertising terkemuka di Indonesia.

Hanya dengan ditemani satu orang karyawan,  Edo memulainya dengan membuka layanan plotting  dan pembuatan cutting sticker.  Beruntung juga Edo membuka outletnya berjejeran dengan toko alat tulis, peralatan kantor dan juga foto copy milik orang tuanya. Selain pelanggan yang datang ke toko orang tuanya bisa langsung dikenalkan kepada usaha miliknya, Edo juga memanfaatkan data base toko orang tuanya tersebut untuk mempercepat bisnis percetakannya.

Semua pelanggan orang tuanya langsung Edo perkenalkan dengan layanan cetak-mencetak digitalnya. Maka dalam waktu yang tidak lama, walauppun tanpa memasang iklan di mana-mana,  dengan cepat jasa plotting dan cutting stickernya sudah dikenal dilingkungan sekitarnya. Perkiraan Edo ternyata benar, bisnis tersebut masih sangat besar peluangnya.  Terbukti, dalam waktu tiga bulan saja dia  berhasil membeli kembali mesin plotter  yang lebih bagus dengan seharga Rp 50 juta. Dengan mesin yang lebih canggih ini tentu usaha Edo semakin berkembang.

Setelah dua tahun menekuni menekuni plotting dan cutting sticker,  Edo melihat peluang lain yang sangat menarik untuk dikembangkan, yakni digital printing. Dengan datangnya teknologi cetak digital format lebar (large format digital printer), mencetak menjadi lebih mudah dan dengan hasi l yang lebih bagus. Dengan mesin ini, membuat spanduk, billboard atau baliho bisa dilakukan denga cepat plus kualitas yang oke.

“Saya harus ambil peluang ini, kalau tidak saya pasti akan ketinggalan ‘kereta’,” tekad Edo. Sayang, harga mesin digital printing ini ternyata mahal sekali, sampai Rp 200 juta. Namun, tidak ada kata  mundur bagi Edo. Niat yang telah terucap  pantang dicabut kembali.  Mesin tersebut harus dibeli. Akhirnya uang tabungannya  sejumlah Rp 100 juta plus hasil melego Avanza-nya ia relakan untuk membeli printer tersebut.

Edo kini telah naik kelas, bisnisnya sekarang tidak hanya plotting dan cutting sticker tetapi juga telah merambah pada digital printing. Bina Maju Advertising siap melayani pencetakan secara digital untuk  berbagai macam aplikasi seperti banner, baliho, spanduk  hingga billboard.

Keputusan Edo untuk masuk ke bisnis digital printing sungguh sangat tepat. Saat itu, khususnya di sekitar workshopnya berada, masih jarang ada percetakan sejenis.  Harga cetak per meternya juga masih terbilang tinggi. Maka dengan tingkat persaingan yang masih relatif rendah serta margin keuntungan yang lumayan tinggi, bisnis Edo dengan cetap melesat maju.

“Saat itu belum ada banting-bantingan harga seperti sekarang,” tandas Edo. Saat itulah Edo merasakan kalau bisnis digital printing sepertinya mudah. Apalagi pada sekitar tahun 2009 sedang gencar-gencarnya kampanye pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden san wakil presiden.  Pada perhelatan tersebut semua calon anggota dewan,  calon presiden dan wakilnya berlomba  “menjual” dirinya melalui media luar ruang, seperti baliho, spanduk maupun billboard. Tak pelak bisnis Edo seperti mendapatkan durian runtuh. Tidak heran belum sampai satu tahun, investasi yang Edo tanam sudah break event point (BEP) dan Avanza-nya juga telah kembali terbeli.

Volume bisnis Bina Maju Advertising terus mengembang. Pelanggannya terus meningkat dan  semakin beragam. Sementara, di sisi lain persainganjuga semakin ketat. Pelanggan yang sudah makin teredukasi menginginkan kualitas yang baik. Maka, kalau selama ini yang ia fokuskan adalah mengejar volume, sekarang ia juga mengejar kualitas.  Salah satu caranya adalah dengan membeli mesin dengan kualitas yang mumpuni.

Mimaki Bikin Tidur Lebih Nyenyak

Setelah bertanya ke sana-sini, pilihan jatuh pada produk asal Jepang yaitu Mimaki.  Edo memilih Mimaki Seri JV 33-160 yang dibelinya pada awal 2011. Menurutnya, secara kualitas produk ini sudah terbukti. Mimaki JV33-160 telah memperoleh penghargaan sebagai “Best Poster Size Solvent or Latex Printer” dan sebagai “Best Grand Format Roll-to-Roll Solvent or Latex Ink” pada ajang SGIA Expo in the USA 2010. Mesin ini juga menggabungkan kecepatan dan kualitas cetak dengan biaya yang rendah.

Mesin solvent untuk outdoor ini,  juga bisa mencetak pda media yang sangat beragam, sehingga akan semakin banyak pula palikasi yang bisa di buat. Beberapa media yang bisa dicetak dengan mesin iniantara lain vinil, kanvas, mesh, kertas (paper), backlit atau film films. Dengan resolusi yang mencapai 1.440 dpi plus teknologi variable dot, membuat gambar yang dihasilkan akan semakin tajam dan halus.

Edo pun merasa bangga bisa memiliki mesin Mimaki tersebut. Menurutnya, saat itu hanya dia yang mengunakan mesin tersebut di daerah Cililitan dan sekitarnya. Mesin ini pun diakuinya  bisa bekerja lebih cepat tanpa mengurangi kualitasnya.  Dengan berbagai fiturnya ini membuatknya bisa bekerja dengan lebih cepat dan efisien.

“Ini adalah andalan saya, yang saya unggulkan dari segi hasil,” ujar Edo berpromosi.  Bahkan menurut Edo, setelah menggunakan mesin ini membuatnya lebih bisa tidur nyenyak.  Dia lantas membandingkan dengan mesin lain yang ada di workshopnya, seperti mesin yang dibelinya diawal karirnya berbisnis digital printing. Menurutnya, mesin tersebut,  perlu terus “ditemani” saat bekerja, sementara Mimaki bisa bekerja sendiri. Hal ini dimunginkan karena sistem bekerjanya sudah terotomatisasi. Misalnya, pembersihan tinta pada printhead secara otomatis akan membersihkan dirinya sendiri.  “Mesin Mimaki bisa ditinggal saat bekerja. Kalau mesin lain ditinggal saat bekerja, membuat jantungnya deg-degan,” akunya lagi.

Saat ini di worshopnya sudah ada sekitar 7 mesin yang siap bekerja siang malam. Di tahun 2013 nanti Bina Maju masih akan terus fokus pada industri digital printing. Edo melihat Bisnis ini masih sangat prospektif dan menantang. Masih banyak hal yang bisa dikembangkan. Apalagi dunia promosi dan periklanan adalah bisnis yang tidak pernah ada matinya. Semakin berkembang perekonomian, kebutuhan akan percetakan, promosi dan advertising akan semakin besar.

Untuk melayani pelanggannya, Edo juga akan menerapkan pelayanan yang komperhensif.  “Saya juga akan menjadi PR yang baik bagi pelanggannya,” ujarnya. Sebisa mungkin ia akan berusahan menangani pelanggannya sendiri dan menggali informasi apa saja yang mereka inginkan.  Kalau ada masalah dengan pelanggan, Edo sendiri yang langsung akan menanganinya.

“Anak buah  saya serahi tugas untuk menangani masalah teknis saja,” kata Edo lagi. Dia sangat yakin dengan pendekatan yang sangat personal ini, pelanggannya akan tetap loyal kepadanya. (MNW)